From: prita mulyasari [mailto:prita. mulyasari@ yahoo.com]

Sent: Friday, August 15, 2008 3:51 PM

To:

Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya, terutama

anak-anak, lansia dan bayi.

Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title International

karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba

pasien, penjualan obat dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya mengalami

kejadian ini di RS Omni International.

Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas tinggi

dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS tersebut

berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan

manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39

derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah

thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya

diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib

rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya

yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000. Dr.

Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan tapi saya

meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu

referensi dr. Indah adalah dr. Henky. Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan

saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam

berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau ijin

pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi,

dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam

bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya kaget tapi

dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan

berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau

keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap

masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat

kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya lebih

memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan

saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik

tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya meminta

keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan suster

hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu box

lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan dan

minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang sampai saya dipindahkan

ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan

datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa, setelah dicek

dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky saja.

Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk

memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter tersebut saya

sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan

berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap menjelaskan bahwa demam

berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan

kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak

napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya

berkata menunggu dr. Henky saja. Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus

padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya.

Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan

suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami namun

janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak

saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab

awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam

riwayat hidup saya belum pernah terjadi.

Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri saya.

Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut malah

mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan

menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya

dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang

pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. Dr. Henky menyalahkan

bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai

membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau

dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya membutuhkan data

medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis

yang fiktif.

Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu

kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya

samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang

181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan

bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000,

kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya complaint dan marah-marah,

dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di

Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang

memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi

(customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima

tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar dipermainkan

oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service nya sama sekali ke

customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima

pengajuan complaint tertulis.

Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama Ogi

(customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service manager) dan

diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan

saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari

lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000 makanya

saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya

masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint saya

ini tidak profesional samasekali. Tidak menanggapi complaint dengan baik, dia

mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi

informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr.

Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas

(Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya

dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut analisa

ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena

sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki bisa terjadi

impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas mendengarnya dan

benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa

sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis

tinggi sehingga mengalami sesak napas.

Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya

tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000 tersebut

namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan

waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu

kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni

memberikan surat tersebut. Saya telepon dr. Grace sebagai penanggung jawab

compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya

namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang

kerumah saya. Kembali saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah

dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS

yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta

disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan

waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat

tertujunya kemana kan ? makanya saya sebut

Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang

mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan

customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut

dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan

pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen hanya

menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai

kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan

diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari

sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin tahu

bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni

mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan

janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah FIKTIF dan yang

sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak

napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani

dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan

asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal

mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. Bina)

namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka

dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput

atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan

apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup

untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing,

benar…. tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dpercaya

untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga Allah

memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan

kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu

saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang

saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau

dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr. Henky, dr.

Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi

perusahaan Anda.

Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak mengatakan

RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

salam,

Prita Mulyasari